Kanal Berita Alternatif Kaum Buruh Dan Rakyat Marginal
indexIndeks

Spirit Persaudaraan dan Kekuatan, Lahirnya Perguruan Wushu Cahaya Tritunggal Sakti di Kota Tambolaka

banner 468x60
Share

SUMBA BARAT DAYA | (Jumat, 11/4/2025) Perguruan Wushu Cahaya Tri Tunggal Sakti resmi berdiri pada 6 April 2025 di Wanno Baru, Desa Kalembu Kaha, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Deklarasi ini menandai langkah awal bagi perguruan wushu ini untuk mencetak generasi muda yang tangguh dan kuat.

Dalam acara deklarasi, Lodowikus Umbu Lodongo, SH, Dewan Pendiri Perguruan Wushu Cahaya Tri Tunggal Sakti, menyatakan bahwa perguruan ini hadir untuk merekrut para generasi muda pecinta olahraga, dengan tujuan untuk membina dan melatih mereka sehingga mental mereka bisa terasa dengan baik.

“Dengan demikian, kita dapat menciptakan generasi bangsa yang tangguh, kuat, dan militan menuju Indonesia jaya,” kata Lodowikus.

Nama Cahaya Tri Tunggal Sakti dipilih karena memiliki makna yang mendalam dan simbolis. Menurut Lodowikus Umbu Lodongo, Dewan Pendiri Perguruan Wushu Cahaya Tri Tunggal Sakti, nama ini terdiri dari beberapa unsur yang memiliki arti dan makna tersendiri.

“Cahaya melambangkan harapan untuk membawa cahaya kebaikan dan kebenaran dalam kehidupan manusia dan alam semesta,” ucap Lodowikus.

Selain itu, Tri Tunggal melambangkan kesatuan dan harmoni antara tiga suku yang ada di Sumba Barat Daya, yaitu Wewewa, Loura, dan Kodi. Sementara itu, Sakti melambangkan kekuatan, ketangguhan, dan kemampuan untuk menghadapi tantangan dan masalah yang ada.

Salib melambangkan perlindungan dan bimbingan dari Tuhan Yesus dan Roh Kudus, sedangkan hati melambangkan pelayanan yang tulus dan ikhlas tanpa pamrih. Warna merah melambangkan keberanian dan semangat untuk mencapai tujuan.

Dengan demikian, nama Cahaya Tri Tunggal Sakti mencerminkan nilai-nilai dan prinsip yang menjadi landasan bagi Perguruan Wushu ini. Perguruan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan minat mereka dalam olahraga wushu, serta menjadi contoh bagi masyarakat tentang pentingnya olahraga dan kegiatan positif lainnya, tegas Lodowikus.

Ketua Umum Martinus Lede menambahkan bahwa kehadiran perguruan ini bukan untuk bersaing, melainkan untuk membangun persaudaraan dan persahabatan antar perguruan wushu. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang kondusif bagi perkembangan wushu di Indonesia, khususnya di Kabupaten Sumba Barat Daya.

John Mone, salah satu tokoh muda dalam Perguruan Wushu Cahaya Tritunggal Sakti, menekankan bahwa tujuan utama perguruan ini adalah untuk melatih mental dan fisik generasi muda agar menjadi lebih baik. Menurutnya, pembinaan mental dan fisik yang baik akan membantu generasi muda menjadi lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

John Mone juga menambahkan bahwa Perguruan Wushu Cahaya Tritunggal Sakti tidak bertujuan untuk mencari musuh, melainkan untuk membangun persaudaraan dan persahabatan dengan perguruan lain. Ia berharap bahwa dengan adanya kerja sama dan komunikasi yang baik, perguruan ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat tentang pentingnya olahraga dan kegiatan positif lainnya. Dengan demikian, Perguruan Wushu Cahaya Tritunggal Sakti dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan minat mereka dalam olahraga wushu, imbuh John.

Acara deklarasi Perguruan Wushu Cahaya Tritunggal Sakti dimeriahkan dengan berbagai macam atraksi bela diri, termasuk jurus, gerakan, puisi, dan dance. Selain itu, juga dilakukan tarian zaiso, sebuah ritual untuk memohon perlindungan dan keselamatan.

 

 

Reporter: Lodowikus Umbu Lodongo, SH.

banner 468x60