Berita  

Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Mendukung Mantan Presiden Suharto Sebagai Pahlawan Nasional

Share

Jakarta (Minggu, 9/11/2025) | Mantan Presiden Soeharto tidak saja layak mendapat gelar sebagai Jendral Besar, Namun juga layak dan pantas mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Mantan Presiden Soeharto bukan saja sebagai seorang prajurit yang mulai dikenal luas saat Serangan 1 Maret, tetapi ia juga tak ada cacatnya sebagai prajurit. Berjuang untuk kepentingan bangsa.

Seperti peristiwa serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara terkoordinasi yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan Pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman. Untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada dan tidak menyerah pada Belanda.

Kemudian pada tahun 1962, Soeharto naik menjadi Panglima Komando Mandala dalam operasi pembebasan Irian Barat. Peran penting Soeharto di berbagai pergerakan militer membuktikan pengaruh kuat dalam kemerdekaan. “Cara pandang sejarah terhadap Soeharto ini tidak bisa hitam putih. Sebagai pahlawan nasional, tidak bisa mengabaikan fakta sejarah. Tapi tidak bisa juga mengabaikan kontribusinya dalam kemerdekaan.

Menurut FSP BUMN Bersatu, bukan hanya sebatas sebagai prajurit. Tapi juga dibidang pembangunan ekonomi yang sudah banyak di rasakan oleh Rakyat Indonesia.

Seperti Program transmigrasi di era Soeharto dianggap sukses karena mencapai puncak implementasinya dan memindahkan jutaan orang dari Jawa, Bali, dan Lombok ke wilayah lain dengan menyediakan fasilitas dasar seperti rumah, sekolah, puskesmas, lahan, dan jalan. Program ini bertujuan untuk pemerataan pembangunan, integrasi nasional, dan menciptakan pusat-pusat pertanian baru.

Kemudian Program Sekolah Inpres oleh Presiden Soeharto sukses karena berhasil membangun lebih dari 61.000 SD Inpres dalam 5 tahun, meningkatkan angka partisipasi SD secara drastis dari 69% menjadi 90%, dan menurunkan angka buta aksara secara signifikan (hingga 15,8% pada 1990). Kesuksesan ini berlanjut hingga tahun 1994 dengan total hampir 150.000 unit SD yang dibangun dan lebih dari 1 juta guru yang ditempatkan. Program ini juga diakui secara internasional dan menerima penghargaan dari UNESCO pada 19 Juni 1993.

Selain itu Jelas Mantan Presiden Suharto berkontribusi secara nyata sebagai pemimpin atau pejuang, serta tidak pernah mengkhianati negara dan bangsa Indonesia.

 

Reporter: Hilman

banner 468x60