Sulawesi Tenggara (Sabtu, 3/10/2026) | Fakta baru yang lebih mencengangkan terungkap di balik aksi membara di perbatasan Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Jika sebelumnya informasi simpang siur menyebut mobil perusahaan yang dirusak massa, kini fakta sebenarnya versi masyarakat mulai terungkap.
Menurut salah satu warga pada Jumat 2 Oktober 2026 dikutip dari bedanusantaraindonesia.id, kericuhan tersebut diduga berawal dari pihak asing bukan dari pihak warga sekitar.
“Orang cina yang duluan atas keterangan masyarakat dilapangan,” Ucap warga, diminta namanya dirahasiakan
Warga tersebut menjelaskan, aksi demonstrasi berkali – kali dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Matarape di area PT. ASKON. Selama ini aksi selalu berjalan damai, tanpa ada pengrusakan, dan selalu negosiasi yang baik dan terkendali.
“Sudah sering kami Demo, hanya tidak ada pengrusakan, selalunya ada negosiasi dan terkendali. Hanya tadi ini demo masyarakat berhadapan dengan orang China,” ungkapnya.
Namun kali ini situasinya berbeda dan memanas. Warga tersebut membenarkan adanya perusakan dua mobil, yakni mobil Granmax bak terbuka warna putih dan mobil Pajero warna putih terlihat dalam video yang beredar hancur lebur. Diduga hal itu dilakukan pihak orang asing (China) menggunakan ekskavator, Menurutnya, itulah awal mula amarahnya warga memuncak.
“Iya. Yang ada vidio mobil di rusak dua itu pak. Itu awalnya pengrusakan, masyarakat marah kenapa ada pengerusakan mobil,” jelasnya.
Ia menegaskan dengan gamblang siapa yang diduga memulai aksi anarkis tersebut.
“Orang cina yang duluan merusak mobil masyarakat,” pungkasnya.
Informasi yang dihimpun di lapangan, mobil yang dirusak menggunakan ekskavator tersebut diduga merupakan kendaraan membawa perlengkapan aksi milik masyarakat Desa Matarape sendiri, bukan milik perusahaan.
Bukan cuma soal debu hauling, warga datang menuntut persoalan debu tebal yang diduga setiap hari meracuni warga, merusak tanaman, dan persoalan lahan mereka diselesaikan. Tapi kenapa kendaraan aksi justru dihancurkan.
Akibatnya, situasi diduga tak terkendali dan berujung pada aksi balasan pembakaran mobil di lokasi. Kobaran api diduga melalap habis kendaraan tersebut sementara massa aksi masih bertahan dan melakukan pemblokiran total akses jalan hauling PT. ASKON.
Dan saat ini situasi dilokasi telah diamankan oleh pihak TNI dan Polri untuk mencegah bentrok susulan.
“Ada pengamanan sekarang dari keamanan,” tutupnya.
Warga menegaskan, PT ASKON Harus bertanggungjawab atas seluruh rangkaian peristiwa ini. Mereka tidak akan mundur sebelum tuntutan terkait debu, tanaman, dan lahan diduga belum diselesaikan (dibayarkan).
Massa Aliansi Masyarakat Matarape diduga hingga kini masih menduduki lokasi dan akses jalan hauling di area PT. ASKON dilaporkan masih diblokade total. Pihak manajemen PT. ASKON belum memberikan keterangan resmi terkait insiden perusakan mobil warga yang diduga dilakukan oleh pekerja china tersebut.
(Editor/Jais)
Langsung ke konten








