Site icon Tvnya Buruh Indonesia

Sikkola Rakyat: Ruang Belajar Tanpa Sekat Untuk Semua

Medan (Minggu, 28/06/2026) |  Di pinggiran sungai Kota Medan, di mana rumah-rumah berdiri berhimpitan dan aroma sungai bercampur dengan keseharian yang keras, sebuah gerakan pendidikan sedang tumbuh diam-diam. Bukan dari gedung megah, bukan dari lembaga besar melainkan dari hati para anak muda yang percaya bahwa setiap anak berhak untuk bermimpi.

 

Pada 22 Juni 2022, Program Sosial Relawan (SR) resmi mendirikan Rumah Belajar (RB) Starban. Sebuah ruang sederhana yang menyediakan pendidikan gratis bagi anak-anak dari komunitas kurang mampu. Lebih dari sekadar tempat membaca dan menulis, rumah belajar ini hadir sebagai ruang harapan tempat di mana anak-anak yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan yang layak akhirnya menemukan bahwa mereka pun berhak mendapat kesempatan yang sama.

 

Setiap akhir pekan, suara tawa anak-anak memenuhi sudut-sudut ruangan itu. Para relawan secara bergantian mengajar materi sekolah dasar serta keterampilan kreativitas dengan metode bermain sambil belajar  karena mereka tahu, bagi anak-anak ini, belajar harus terasa seperti hadiah, bukan beban.

 

Kawasan Starban bukan nama yang sering muncul dalam perbincangan pembangunan kota. Terletak di bagian belakang, menempel di tepi sungai, kawasan ini dihuni oleh masyarakat yang hidup di celah-celah keterbatasan sosial dan ekonomi. Banyak orang tua yang bekerja keras dari pagi hingga malam hanya untuk memastikan ada nasi di meja makan. Dalam kondisi seperti itu, pendidikan kerap menjadi kemewahan yang tidak terjangkau bukan karena tidak dicintai, tetapi karena hidup menuntut prioritas lain yang lebih mendesak.

 

Anak-anak di sini tumbuh dengan kecerdasan yang sesungguhnya, dengan imajinasi yang liar dan rasa ingin tahu yang besar. Namun tanpa ruang dan dukungan yang cukup, semua potensi itu perlahan-lahan tergerus oleh kerasnya kenyataan. Program SR melihat itu dan mereka tidak bisa diam.

 

“Jadi visi-misinya itu memberdayakan orang-orang yang termarjinalkan, terutama di awal pembentukan di Starban ini. Kawasan Starban itu letaknya di bagian belakang, di tepi sungai, jadi banyak dari mereka yang termarjinalisasi dan kurang mendapat pendidikan yang layak. Melalui gerakan ini, mungkin SDM anak-anak di sini bisa dibangun lagi. Jadi sebenarnya, kami lebih menekankan pada pendidikan dan juga pemberdayaan warga,” ujar Jihan, salah satu relawan, dengan mata yang berbinar saat menceritakan alasan ia hadir setiap minggunya.

 

Bagi Jihan dan kawan-kawannya, Starban bukan sekadar lokasi program. Ia adalah panggilan hati.

Rumah Belajar Starban menerapkan pendekatan holistik yang bertumpu pada dua pilar utama. Pertama, pendidikan karakter karena para relawan percaya bahwa ilmu tanpa akhlak hanyalah separuh dari seutuhnya manusia. Setiap sesi selalu dibuka dengan penanaman tiga nilai dasar yang sederhana namun dalam maknanya: ucapan terima kasih, permintaan maaf, dan kata tolong. Tiga kata yang jika benar-benar meresap ke dalam diri seorang anak, bisa mengubah cara ia memandang dunia dan orang-orang di sekitarnya.

 

Pilar kedua adalah pendidikan akademis yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan. Untuk siswa SD kelas 1 hingga 3, fokus diberikan pada kemampuan membaca dan menulis dua fondasi yang tanpa keduanya, pintu-pintu ilmu lain akan tetap tertutup rapat. Sementara untuk siswa SMP dan SMA, para relawan hadir sebagai teman belajar yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah sekaligus menyuntikkan motivasi mengingatkan mereka bahwa mimpi besar itu nyata dan layak untuk diperjuangkan.

 

Kegiatan berlangsung setiap Jumat pukul 16.00 dan Sabtu pukul 14.00, melayani peserta didik mulai dari usia prasekolah sekitar 4 tahun hingga tingkat SMA. Deretan wajah kecil yang datang setiap minggunya adalah alasan para relawan terus kembali, meski hari-hari mereka sendiri penuh dengan tuntutan perkuliahan. Para pengajarnya adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Medan. Mereka datang bukan karena nilai, bukan karena kewajiban akademis mereka datang karena memilih untuk peduli. Dan dalam pilihan sederhana itulah, sesuatu yang luar biasa sedang dibangun.

 

Program SR tidak berhenti di ruang kelas. Mereka memahami bahwa pendidikan anak tidak bisa dilepaskan dari kondisi keluarga yang melingkupinya. Maka mereka pun hadir untuk para ibu  mendampingi mereka dalam kegiatan berjualan, membantu membangun kemandirian ekonomi kecil-kecilan yang hasilnya dibagi antara pelaku usaha dan kebutuhan operasional Rumah Belajar. Sebuah ekosistem kecil yang saling menopang.

 

Kegiatan thrifting penjualan barang bekas layak pakai turut menjadi sumber dana komunitas yang kreatif sekaligus mengajarkan nilai bahwa sesuatu yang tampak usang pun masih memiliki harga dan cerita. Di sisi sosial, SR aktif menggelar senam pagi bersama warga, menciptakan ruang kebersamaan yang hangat di antara kesibukan sehari-hari. Kolaborasi dengan komunitas lain seperti Payas dalam kegiatan bersih-bersih lingkungan juga menjadi bukti bahwa perubahan sosial tidak bisa dikerjakan sendiri ia butuh tangan-tangan yang saling bergandengan.

Di Rumah Belajar Starban, batas antara guru dan murid, antara relawan dan warga, perlahan melebur menjadi satu: sebuah komunitas yang tumbuh bersama.

 

Tentu saja, perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada hari-hari ketika kursi-kursi kecil itu tidak terisi penuh. Ada pekan-pekan ketika relawan yang dinantikan tidak bisa hadir karena ujian atau tugas menumpuk. Ketidakkonsistenan kehadiran akibat kesibukan perkuliahan adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari dan setiap kekosongan itu terasa berat, terutama bagi anak-anak yang sudah menantinya sejak pagi.

 

Motivasi belajar anak-anak pun masih perlu terus ditumbuhkan. Tidak mudah meminta seorang anak untuk fokus membaca ketika di luar jendela teman-temannya sedang bermain, ketika perutnya mungkin belum kenyang, ketika pikirannya melayang entah ke mana. Belum lagi keterbatasan bahan ajar dan dana yang sering kali memaksa para relawan untuk lebih kreatif dari yang mereka bayangkan.

Namun justru di sinilah keindahan sesungguhnya dari gerakan ini tampak. Mereka tidak menyerah  mereka beradaptasi.

 

Para relawan Rumah Belajar Starban belajar bahwa cara terbaik mengajar anak bukan dengan memaksa mereka duduk diam, melainkan dengan menemui mereka di dunia mereka sendiri. Maka mereka mulai memutar film-film edukatif sebagai media literasi yang lebih hidup dan menyentuh imajinasi. Mereka berjalan menyusuri gang-gang sempit untuk menjemput anak-anak langsung ke rumah mereka, karena terkadang yang dibutuhkan bukan ajakan, melainkan kehadiran yang nyata.

Sebelum kelas dimulai, selalu ada waktu bermain singkat bukan karena relawan kehabisan materi, tetapi karena mereka tahu bahwa anak yang hatinya gembira adalah anak yang paling siap untuk belajar. Inovasi-inovasi kecil ini mungkin tidak tercatat dalam buku teks pendidikan mana pun. Tapi ia hidup dan bekerja  dalam senyum anak yang tiba-tiba bisa membaca kalimat pertamanya, dalam mata yang berbinar saat sebuah cerita terbuka di hadapannya.

 

Program SR berharap semakin banyak mahasiswa dari berbagai kampus di Medan yang mau bergabung. Bukan karena mereka kekurangan tenaga, tetapi karena mereka percaya bahwa semakin banyak tangan yang terlibat, semakin besar dampak yang bisa dirasakan. Kolaborasi dengan komunitas-komunitas lain juga terus diupayakan karena perubahan yang sejati selalu lahir dari kerja bersama, bukan dari upaya yang berdiri sendiri.

 

Sebab pada akhirnya, Rumah Belajar Starban bukan sekadar tentang membaca dan menulis. Ia adalah tentang sesuatu yang jauh lebih besar: memberi anak-anak di tepian sungai itu sebuah kesempatan untuk bermimpi lebih besar dan meyakinkan mereka bahwa mimpi itu, sekecil apa pun, layak untuk diperjuangkan.

Di pinggiran yang terlupakan itu, di antara deru sungai dan kehidupan yang penuh tantangan, sebuah cahaya kecil terus menyala. Dan selama masih ada tangan-tangan muda yang mau merawatnya, cahaya itu tidak akan padam.

(Red)

Exit mobile version