Site icon Tvnya Buruh Indonesia

Oknum TNI Diduga Culik 6 Warga Bandar Klippa Dilokasi Tanah Eks PTPN II Percut Sei Tuan

Deliserdang (Sabtu, 11/07/2026) | Peristiwa yang disebut-sebut bak adegan film penculikkan di siang bolong mengguncang kawasan lahan terlantar eks PTPN II yang dikuasai oleh kelompok tani di jalan mahoni desa bandar klippa kecamatan percut sei tuan kabupaten deliserdang pada jumat 10 Juli 2026, tuai sorotan publik.

Enam (6) warga yang sedang membantu aktifitas cetak sawah milik kelompok tani diduga dibawa paksa oleh bantuan operasi (BKO) PTPN ll dari oknum TNI yang diduga dari satuan Yon Armed 2 Delitua dan puluhan security PTPN 2.

Ke Enam (6) warga yang ditangkap hingga kini tidak diketahui keberadaan nya, yakni, bernama Suwandi, Adi, Rizal, Bobi, Ranjit, dan Gito. Mereka diamankan secara paksa saat berada di lokasi lahan terlantar yang selama ini dikelola kelompok tani selama 26 tahun.

Dari keterangan petani dilahan tersebut berinisial Jekrik mengatakan ke 6 warga yang di ambil paksa oleh tim oknum BKO PTPN II terdiri dari dua warga yang sedang melakukan aktivitas di lahan pertanian dan 4 driver yang hendak mengangkut tanah cetak sawah.

Kata warga setempat, Peristiwa penangkapan bawa paksa itu sangat cepat, tim BKO PTPN II bersama puluhan security masuk ke lahan cetak sawah tanpa menunjuk surat penangkapan yang sah dan secara arogan langsung menarik paksa ke 6 warga tersebut.

Yang membuat situasi kian mencekam, seorang warga pencari rumput pakan ternak yang tidak mengetahui apa-apa di sekitar areal lahan cetak sawah tersebut juga mendapat intimidasi serius.

Salah satu dari mereka berpakaian kaos putih membawa tas warna coklat inisial R.Bangun mengeluarkan benda menyerupai senjata api dan diduga menodongkan ke warga sipil yang sedang mengarit rumput tersebut.

Diduga warga yang mengarit rumput tersebut mendapat intimidasi usai aksinya ketahuan merekam video pada saat penangkapan paksa ke 6 warga tersebut oleh oknum TNI. Insiden ini membuat warga sekitar ketakutan dan memilih menjauh dari lokasi.

Sebelum kejadian penangkapan secara brutal tersebut, tiga tim BKO PTPN ll masuk ke lahan kegiatan cetak sawah untuk mengambil dokumentasi. Salah satu dari tim BKO mengaku dari satuan batalyon armed yang bertujuan untuk menakut-nakuti kelompok tani sembari mengatakan akan menurunkan 1 (satu) kompi pasukan dari batlyon armed, kata warga setempat.

“Galian C ini, Kalian mau keras – kerasan disini, ku turun kan satu kompi dari armed kesini, kata warga menirukan suara R.Bangun kepada kelompok tani.

Tak berselang lama setelah adu argumentasi turun lah TIM BKO bersama puluhan security untuk mengambil paksa warga.” Kata Jekrik.

Kelompok tani membantah keras tudingan bahwa aktivitas di lokasi merupakan galian C. Menurut mereka, saat ini kelompok tani sedang fokus catak lahan persawahan untuk mendukung asta cita presiden prabowo untuk swambada pangan.

Jika benar ada pihak-pihak tertentu yang membawa warga sipil secara paksa tanpa prosedur hukum yang jelas, maka ini bukan lagi sekadar konflik lahan atau salah paham di lapangan. Ini sudah masuk wilayah dugaan perampasan kemerdekaan masyarakat Indonesia, intimidasi terhadap warga, dan tindakan yang mencederai rasa aman masyarakat. Negara tidak boleh kalah oleh aksi-aksi bergaya premanisme dibalut seragam sebagai Aparat Penegak Hukum (APH) atau kekuasaan yang dipertontonkan di atas penderitaan rakyat kecil.

Kasus ini juga membuka luka lama soal penyerangan warga pasar 9 kecamatan biru – biru oleh oknum dari Aparat Penegak Hukum di delitua yang menyerang warga secara arogan dan brutal.

Kini, hal serupa terjadi pada warga Percut Sei Tuan ke enam orang yang di duga diculik oleh oknum BKO PTPN 2 dari oknum TNI di Delitua menanggung ketakutan, kecemasan, dan ketidakpastian hukum.

Warga dan kelompok tani mendesak Kapolda Sumatera Utara, Pangdam I/Bukit Barisan, serta pihak terkait untuk segera turun tangan, menelusuri keberadaan ke enam warga tersebut yang diduga ditangkap paksa oleh oknum TNI. Dan memeriksa semua pihak yang berada di lokasi, serta mengusut tuntas dugaan penculikan serta intimidasi bersenjata terhadap warga sipil.

Jangan sampai hukum terlihat tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Jangan biarkan rakyat kecil hilang dibawa paksa, lalu seolah-olah semua bisa ditutup dengan alasan penertiban. Ke Enam warga kini belum ada kabar dan ditemukan oleh kekuarganya. Siapa pun yang terlibat wajib dimintai pertanggungjawaban.

Terkait hal itu, awak media mencoba mengonfirmasi kabag aset PTPN 2 Topan melalui pesan whatshappnya, belum ada jawaban, selain itu, Danyon Armed 2 delitua letkol Kiky Hardian saat di konfirmasi, juga belum ada jawaban keterangan resmi hingga berita ini ditayangkan.

 

Editor: Ahmad Jais
Sumber: Warga Percut Sei Tuan

Exit mobile version