Deli Serdang (Selasa, 20/10/2026) | Husen Syukri akhirnya memberikan klarifikasi resmi melalui akun medsos pribadinya terkait insiden berdarah yang menewaskan salah seorang kader organisasi kemasyarakatan (ormas) Pemuda Pancasila, Dony Pacek, di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, pada Minggu malam (18/10/2026).
*Kalrifikasi ini dikutip dari Lensa Arena Viral di Facebook grup Anak Antam*
Langkah ini diambil Husen menyusul beredarnya sejumlah video viral yang menampilkan seseorang berteriak dan menyebut nama “Husen Syukri” sebagai sosok di balik tewasnya korban.
Melalui unggahannya, Husen Syukri menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya almarhum Dony Pacek. Kendati demikian, ia secara tegas menampik tuduhan yang mengaitkan dirinya dengan peristiwa tersebut.
”Saya mengucapkan turut berduka cita atas peristiwa yang terjadi… Namun terus terang saya merasa tidak nyaman karena ada video viral seseorang teriak-teriak membawa nama saya sebagai penyebab kematian almarhum,” ungkap Husen.
Husen menegaskan bahwa dirinya sedang berada di rumah saat bentrokan pecah dan baru mengetahui insiden tersebut setelah kejadian berlalu. Ia mengaku selama ini bersikap cooling down, tidak pernah menganggap korban sebagai musuh, serta menolak terpancing oleh unggahan tantangan yang pernah dibuat almarhum di medsos.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Husen dari rekan-rekannya, bentrokan bermula sekitar pukul 18.00 WIB akibat aksi pelemparan batu terhadap seorang warga Desa Bandar Labuhan.
Saat rekan-rekan korban pergi memeriksa keadaan korban pelemparan, mereka bertemu dengan rombongan Dony Pacek di jalan hingga terjadi aksi saling serang.
Husen membeberkan bahwa dua orang keponakannya, yakni Andy Limbong dan Angga Dwika, menjadi korban penabrakan secara langsung oleh mobil Toyota Yaris putih (BK 1442 MAG) yang dikendarai rombongan almarhum.
Andy Limbong, Mengalami patah/hancur kaki akibat ditabrak dan saat ini diamankan di Polda Sumut menggunakan kursi roda.
Angga Dwika, Saat ini menjalani perawatan dan operasi di Rumah Sakit Bhayangkara akibat luka tembak (7 peluru bersarang di tubuhnya) serta cedera kaki parah.
Husen juga mempertanyakan tuduhan penembakan terhadap Dony Pacek. Menurutnya, dari rekaman CCTV dan video warga yang beredar, tidak ditemukan bukti bahwa kedua keponakannya melakukan penembakan ke dalam mobil Yaris putih. Ia justru menyoroti ditemukannya senjata tajam serta senjata api rakitan di dalam kendaraan korban.

Selain menjelaskan kronologi, Husen menyayangkan penanganan awal oleh aparat di lapangan. Ia mendapat informasi bahwa anggota Polsek Tanjung Morawa sempat mengamankan lima orang (dua keponakannya dan tiga anggota rombongan almarhum) menggunakan mobil bak terbuka.
Namun, alih-alih dibawa ke Markas Polsek atau Polres, rombongan justru dibawa ke Klinik Mitra Sehat tempat rekan-rekan almarhum berkumpul. Di lokasi tersebut, kedua keponakannya diduga mengalami penganiayaan secara brutal di hadapan oknum petugas.
”Ada unsur kesengajaan dari oknum Polsek Tanjung Morawa. Di dalam video terlihat dua keponakan saya dianiaya secara brutal.” tegasnya.
Husen menyatakan kesiapannya untuk hadir dan memberikan keterangan kepada pihak kepolisian, khususnya Polda Sumut, demi membuat terang perkara ini. Ia meminta kepolisian bekerja secara profesional tanpa adanya intervensi dari kelompok manapun.
Ia juga menekankan bahwa jika kedua keponakannya terbukti bersalah, mereka harus diproses hukum. Namun, ia menuntut keadilan agar seluruh pelaku penganiayaan dan penembakan terhadap kedua keponakannya juga ditangkap dan diproses secara hukum.
Mengakhiri pernyataannya, Husen menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat setempat yang menjadi korban oleh insiden tersebut dan bersumpah tidak memiliki keterlibatan atau pengetahuan awal atas terjadinya bentrokan tersebut, husen juga berharap para korban segera sembuh dan dapat beraktifitas kembali.
(Red/Sumber Facebook)
Langsung ke konten








