Site icon Tvnya Buruh Indonesia

Hendra Bajil Bukan Penjahat, Melaikan Pahlawan Tanpa Jasa Bagi Ratusan UMKM Warga Sumsel dan Lampung

Way Kanan (Rabu, 01/07/2026) | Pasca dilaporkannya, Hendra Bajil ke Mabes Polri oleh sejumlah mahasiswa gabungan Lampung – Jakarta, terkait dugaan sebagai seorang pungli angkutan batubara beberapa hari lalu, kini tuai tanggapan berbeda dari kalangan pedagang kecil serta pekerja malam pengawas armada batubara wilayah Sumatera Selatan dan Provinsi Lampung.

Dimana, setidaknya ada ratusan keluarga yang bergerak dalam usaha kecil dan menengah yang berada di sepanjang jalan lintas tengah Sumatera (Jalintengsum) yang menyebutkan, tidak dipungkiri bahwa pengunjung terbesar membawa kehidupan bagi keluarga mereka adalah para supir angkutan batubara. Salah satunya pengurusan Hendra Bajil yang telah berkomitmen untuk meminta supir supirnya secara bergantian mampir ke warung makan, kios solar eceran dan perbengkelan di wilayah Sumsel dan Lampung yang telah ia tunjuk sebagai mitra di jalan setiap harinya.

Hal itu dibenarkan oleh Rodi, SH, MH, keluarga Aktivis tenaga buruh indonesia sekaligus merupakan kuasa hukum para pedagang kecil yang tersebar di jalinstengsum wilayah Sumsel dan Lampung.

Menurut dia, sejak tahun 2013 lalu, setidaknya di tahun 2026 ini, sudah ada 322 keluarga UMKM yang berkehidupan di pinggir jalur lintasan Sumatera, wilayah Palembang hingga tiba ke Provinsi Lampung menjalani kerjasama dengan lembaganya dan didaftarkan bergabung menjadi satu kesatuan sebagai tempat istirahat, makan – minum bahkan pihak pihak teroganisir sebagai rekanan jasa pertolongan perbaikan trebel armada, penjagaan malam terhadap barang angkutan di jalan, serta tim evakuasi supir kecelakaan untuk dibantu pengurusan hingga masalah selesai secara baik di lapangan maupun di ranah hukum.

“Sebagai keperdulian dan kemanuasian tadi. Maka ada kewajiban yang ditetapkan secara langsung melalui supir supir ke Hendra Bajil untuk mempertahankan komitmen kerjasama dengan kami. Saya pastikan ratusan masyarakat kecil sangat terbantu hadirnya Bajil ditengah tengah kami sejauh ini. Ada yang senang warungnya sebagai tempat langganan ratusan mobil makan, ada yang senang mendapat gajih tambahan untuk selalu stenbay supaya bisa segera membantu supir dalam kondisi apapuna d pos pos daerah masing masing. Bahkan dalam perbulan bisa ratusan juta inkam masyarakat yang nerima gajih dari Hendra Bajil dan supirnya,”terang Rodi, kepada sejumlah awak media Lampung, Rabu (30/6/2026).

Kalau Hendra Bajil dibilang pelaku pungli batubara seperti yang dilaporkan mahasiswa gabungan Lampung – Jakarta ke Mabes polri dimedia kemarin secara langsung tidak memperkaya diri sendiri banyak yang ia bantu. Dalam bisnis tentu setiap usaha yang bergerak modal akan mendapatkan keuntungan.

Untuk itu, dirinya berharap Penyidik Kepolisian yang menerima laporan mahasiswa di Bareskrim Polri kemarin, juga bisa melihat manfaat bagi sebagian besar masyarakat kecil.

“Ada banyak yang perlu di pertimbangkan meski tidak bermaksud mengendorkan aturan hukum. Kita paham semua ini salah. Tetapi daerah kami justru hanya di dukung dari hasil pertambangan batubara dari Sumsel yang melintas di Lampung ini. Sehingga kami masyarakat diluar pengurusan armada angkutan batubara dan pengusaha pertambangan siap untuk menghadap Kapolri dalam menyampaikan keluhan ke Presiden Prabowo sehingga kami memiliki izin khusus penarikan biaya pelayanan armada dalam mengurangi ganguan lalulintas, sehingga terciptanya juga Pendapatan Daerah Provinsi Lampung dan Sumsel mengenai kenaikan harga ekspor batubara melalui tongkang dan stopel batubara di Lampung. Semua itu ditujukan untuk melindungi semua hak masyarakat yang tidak menikmati batubara dengan pembangunan dan perawatan jalan lintas, atau untuk membantu anggaran daerah bisa mensubsidi kebutuhan masyarakatnya,”harap Rodi.

Dikonfirmasi terpisah, Mahessa, warga Way Kanan Lampung salah seorang pejuang terciptanya Keutuhan pungsi Hukum, Sosial dan Bernegara Republik Indonesia, menuding bahwa langkah mahasiswa gabungan Lampung – Jakarta ke Bareskrim Polri kemarin tidak memiliki perwakilan Masyarakat Sumsel dan Lampung.

“Kita tidak melihat aktivis handal di dalam gerakan kemarin untuk mendukung tegaknya pungsi Hukum di Lampung terkait pungli batubara itu. Saya tidak percaya bahwa mereka sudah memiliki semua dokumen penting terkait pelanggaran hukum dan aturan Negera untuk membongkar mafia batubara ilegal serta praktek pungli secara utuh di dalam nya,”sindir Mahessa.

” Ada dugaan bahwasanya terjadi pemaksaan uang mel melan dari supir ke salah satu pihak yang tengah di laporkan dalam berita kemarin . Saya tidak melihat bahwasanya semua mobil angkutan batubara selain Bajil Tubaba itu telah memiliki izin resmi dari kementerian guna angkutan tambang mengunakan jalan negara yaitu jalan lintas tengah Sumatera. Banyak jenis surat dan jenis armada pengangkut batubara dari Sumsel ke Lampung pakai jalur lintas Sumsel Lampung. Kenapa pungli yang harus mereka sampaikan. Bukan pelanggaran angkutan dan korupsi besar besaran dari penjualan itu disampaikan”kata Mahe seraya mengatakan kalau kita sih harusnya meminta kepala negara dan Kapolri turun ke Lampung dan Sumsel agar mengatur bagaimana ekspor batubara mahal sehingga banyak kebutuhan daerah bisa disokong dari situ.

“Kepolisian itu lebih detail soal pungli dan pelanggaran batubara di Sumsel dan Lampung. Makanya mereka sudah banyak melakukan penangkapan pungli dan penutupan lokasi tambang baik di Sumsel maupun Lampung. Sejauh ini untuk apa kita persoalkan siapa biang keroknya tapi bagaimana harga ekspor batubara ke luar Lampung dari Sumsel ini bisa naik hingga harga jual di angka 5000 per kg. Saya rasa kedepan Bareskrim Polri lebih mementingkan rakyat kecil disamping masalah ini,”pungkasnya.

 

Reportert: Deta Suryana

Exit mobile version