SHARE NOW

Perang di Palestina Untuk Menjaga Kesucian Masjidil Al Aqsa

Perang di Palestina Untuk Menjaga Kesucian Masjidil Al Aqsa

 

 

 

 

MEDAN | (Selasa, 26/122023) Ketua Forum Ulama Palestina Diaspora ASEAN Dr Ahed Abu Al Atta menegaskan, peperangan yang terjadi di Palestina sejak 7 Oktober 2023 lalu yang telah menewaskan sedikitnya 21 ribu rakyat sipil Palestina adalah untuk menjaga kesucian Masjid Al Aqsa. Tentara Zionis Israel punya strategi untuk kuasai Masjid Aqsa.

“Para mujahid mendapatkan informasi bahwa orang Yahudi Israel ingin menguasai Masjid Al Aqsa dan menjadikannya menjadi beberapa bagian sehingga mereka punya strategi menguasai Masjid Al Aqsa. Para mujahid terus menggagalkan penguasaan Masjid Al Aqsa oleh tentara pendudukan Israel. Para mujahid selamanya akan menjaga kesucian Masjid Al Aqsa,” ujar Dr Ahed di depan sejumlah tokoh Agama Islam, tokoh Ormas, aktivis, Akademisi Islam pendukung Palestina di kediaman Ketua Panitia Aksi Kemanusiaan Sumut For Palestine Afan Lubis di Jl. STM Medan Johor.

Hadir juga dalam pertemuan tersebut Ketua MUI Kota Medan Dr Hasan Matsum, M.Ag Ketua GNPF Ulama Sumut Drs H Aidan Nazwir Panggabean, Ansyari Usman wartawan senior dan para aktivis Islam.

Dr Ahed menjelaskan, kondisi terkini di Jalur Ghaza, akibat dari peperangan tersebut, 7000 warga sipil Palestina ditawan oleh tentara Zionis Israel, bahkan 105 jurnalis tewas terbunuh. Mereka mendapat siksaan yang sangat keji, bahkan Pemerintah Israel ingin membuat Undang- Undang agar semua tawanan Palestina tersebut dibunuh semuanya.

“Penjajah Israel melarang kaum ibu dan anak untuk mengunjungi kamp tawanan perang. Para tawanan juga dilarang makan dan minum,” tutur Dr Ahed, didampingi penterjemah Ustadz Fahmi Salim, LC, MA Founder Al Fahmi Institut.

Selain itu, ujar Dr Ahed, blokade yang telah dilakukan oleh penjajah Israel selama 16 tahun membuat rakyat Ghaza yang berpenduduk 2,3 juta mengalami penderitaan yang sangat luar biasa.

“Para mujahidin ingin segera menyelesaikan masalah ini dan kembali hidup normal dan hidup mulia di Ghaza,” tutur Dr Ahed.
Beliau menambahkan, apa yang dilakukan oleh tentara penjajah Israel adalah untuk membunuh rakyat sipil Palestina. Mereka membunuh rakyat sipil, kaum perempuan dan anak-anak.

“Sampai hari ini sudah 21 ribu orang yang mati syahid. Kebanyakan korban di Ghaza adalah kaum perempuan dan anak-anak. Ini adalah tindakan genosida terbesar di muka bumi. Penjajah Zionis Israel membunuh siapa saja yang ada di dalam rumah dan di dalam rumah sakit. Hampir semua rumah sakit dihancurkan termasuk Rumah Sakit Indonesia sehingga tidak satupun rumah sakit di Ghaza yang bisa melakukan tindakan medis. Sekarang ada 5000 orang yang terluka yang harus dibawa keluar dari Ghaza,” jelas Dr Ahed.

 

Ahed menceritakan, sampai sekarang ini rumah-rumah yang dibom oleh penjajah Israel mencapai 50 persen. Bahkan, saking banyaknya korban jiwa, mayat-mayat banyak berada di pinggir jalan karena tidak bisa dievakuasi atau dikuburkan.

“Penjajah Israel sengaja membiarkan mayat-mayat tersebut supaya dimakan oleh binatang Anjing atau Kucing,” tutur Ahed.

Ahed menyebutkan bahwa penjajah Israel telah membuat lubang besar untuk warga sipil yang dikubur hidup-hidup, membunuh laki-laki di depan istri dan anak-anaknya sehingga ini merupakan kejahatan yang sangat sadis dan luar biasa yang dilakukan oleh para tentara Israel.

“Apa yang telah dilakukan oleh tentara Israel terhadap rakyat sipil Palestina membuktikan lemahnya Israel menghadapi pejuang-pejuang Palestina. Perang ini juga membuktikan bahwa tentara Israel terlemah di muka bumi. Kita melihat Israel hanya untuk melindungi diri mereka sendiri. Mereka tidak mampu melawan mujahid Palestina yang memiliki iman yang kuat. Jika Israel tanpa ada dukungan dari Amerika Serikat dan sekutunya maka sangat mudah bagi mujahid untuk menghancurkan mereka,” tutur Ahed seraya menegaskan bahwa para mujahid Palestina bukanlah teroris, riil teroris yaitu Zionis-Israel.

Oleh sebab itu, aksi-aksi demonstrasi mendukung Palestina yang dilakukan di berbagai negara di belahan dunia ini sangat berguna dalam mendukung perjuangan Rakyat Palestina. Tekanan diplomatik dan tekanan massa, tekanan ekonomi, dan tekanan politik sangat perlu. Tetapi Israel hanya mengerti bahasa militer.

“Begitu juga yang dilakukan oleh umat Islam di Indonesia. Dukungan dari Rakyat Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat penting bagi kami. Harus ada dukungan politik bagi Palestina. Kami mengucapkan terimakasih atas donasi Rp 1,6 miliar dari Aksi Sumut For Palestine,” ujar Ahed.

Rakyat Ghaza mengalami kesulitan serius dalam hal ketersediaan makanan dan air bersih. Bantuan yang bisa masuk saat ini hanya sedikit saja.
“Rakyat Ghaza yang berjumlah 2.3 juta jiwa memerlukan makanan sebanyak 600 truk setiap hari. Tapi yang bisa masuk hanya sekitar 10% saja,” jelasnya.

Sementara itu, laporan-laporan media internasional menyebutkan rakyat Ghaza terancam kelaparan. Lembaga-lembaga amal internasional mengimbau bantuan dari publik untuk mengatasi kekurangan makanan dan obat-obatan di Ghaza.

 

#Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSTICKER