SHARE NOW

Sejarah Awal Sunan Gung Jati Masuk Dewan Walisongo

JAWA BARAT | TVNYABURUH — Pada tahun 1435 M, Syekh Maulana Malik Israil dan Syekh Maulana Ali Akbar wafat. Maka didakan sidang Walisongo ke-3 pada tahun 1436 M di Ampel Denta.

Untuk menggantikan dua wali tersebut, diutuslah Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) dan Syarif Hidayatullah.

Dengan kehadiran Ja’far Shodiq dan Syarif Hidayatullah dari Palestina ini, maka anggota Walisongo tetap berjumlah sembilan, yaitu:

1. SunanAmpel, sebagai ketua berkedudukan di Ampel Dento, Suroboyo.

2. Maulana Ishak bertugas di Blambangan Jawa Timur

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubra, bertugas keliling di Jawa Timur

4. Maulana Muhamrnad Al-Maghribi, bertugas di Jawa Tengah.

5. Jafar Shodiq, berkedudukan di Kudus Jawa Tengah.

6. Syarif Hidayatullah, bertugas di Jawa Barat.

7. Maulana Hasanuddin, bertugas di Banten, Jawa bagian Barat.

8. Maulana Aliyuddin, bertugas di Banten, Jawa Barat.

9. Syekh Subakir, berdakwah keliling di Jawa Tengah.

Berdasarkan nama dan tempat dakwah di atas, menunjukkan bahwa dakwah Islam yang digelorakan Walisongo telah merata di seluruh pulau Jawa.

Dari  9 Walisongo angkatan ke-3 di atas, ada 3 Wali yang usianya lebih muda, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) sebagai ketua yang berada di Jawa bagian Timur.  

Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) yang berdakwah di Jawa bagian Tengah dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang berdakwah di Jawa sebelah Barat.

Syarif Hidayatullah lahir pada tahun 1448 M di Mekah Al-Mukarramah. Ayahnya bernama Syarif Abdullah (Sultan Mahmud) bin Ali Nurul Alim dan ibunya bernama Nyai Rara Santang dari Sunda.

Syarif Hidayatullah datang ke Jawa pada tahun 1470 M menggantikan Syekh Maulana Ali Akbar yang wafat tahun 1436 M.150

Setelah Syarif Hidayatullah beranjak dewasa, beliau tekad bulat menjadi guru pengajar Islam.

Syarif Hidayatullah pergi ke Mekah untuk mempelajari Islam secara mendalam kepada Syekh Tadhuddin Al-Kubri dan Syekh Ataullah Sadjali, pengikut madzhab Imam Syafi’i rhm. Setelah itu Syarif Hidayatullah Jati menuju Baghdad untuk belajar ilmu tasawuf syar’i.

Setelah Syarif Hidayatullah menuntut ilmu, beliau kembali ke Mesir. Di Mesir, beliau hendak diangkat menjadi Raja Mesir, menggantikan pamannya.

Namun Syarif Hidayatullah tidak menerimanya, karena beliau lebih bertekad ke Jawa untuk menyebarkan dakwah Islam di Cirebon. Lalu diangkatlah adiknya yang bernama Syarif Nurullah sebagai Sultan Mesir.

Syarif Hidayatullah menuju Jawa dengan singgah terlebih dulu di wilayah penyebaran İslam seperti Gujarat, Pasai, Banten, dan Gresik.

Selama dua tahun di Pasai, Sunan Gunung Jati berguru kepada Maulana İshaq, salah satu sesepuh Wali Songo angkatan pertama yang pernah dakwah di Blambangan sekaligus ayah Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Setelah itü Syarif Hidayatullah berlayar menuju Banten. Di sana sudah ada orang-orang yang maşuk İslam. İni adalah buah hasil dakwah Maulana Hasanuddin, Maulana Aliyuddin, dan Maulana Malik Isra’il maupun Sunan h,Ampel yang menjadi pemimpin Wali Songo angkatan ke-2.

Oleh karenanya, setelah tahun 1470 M Syarif Hidayatullah menuju Ampel Dento dengan menumpang kapal orang İslam dari Jawa Timur.

Setelah sampai di Ampel Dento, beberapa waktu kemudian Wali Songo angkatan ke-2 mengadakan musyawarah untuk menggantikan Muhammad Ali Akbar dan Maulana Malik Isra’il serta menetapkan anggota Wali Songo angkatan yang ke-3.

Dengan diangkatnya dua wali baru ini, terbentuklah dewan ulama Walisongo Angkatan ke-3 (1436-1463 M). Para wali kemudian membagi tugas.

Sunan Ampel, Maulana İshaq, dan Maulana Jumadil Kübra tetap bertugas di wilayah Jawa bagian Timur. Syekh Subakir, Maulana Maghribi, dan Ja’far Shodiq tetap bertugas di Jawa bagian Tengah. Dikutip dari Portal Majalengka.com

Maulana Hasanuddin, Maulana Aliyuddin, dan Syarif Hidayatullah bertugas di Jawa bagian Barat. Syarif Hidayatullah ditetapkan di Cirebon oleh karena ibunya berasal dari tanah Sunda dan Pangeran Walangsungsan yang merupakan pamannya menjadi Kusu penyebar İslam di Cirebon.155

Dengan pembagian tugas ini, maka masing-masing wali mempunyai wilayah dakwah sendiri-sendiri. Mereka bertugas menggelorakan dakwah Islam sesuai keahliannya masingmasing.*

#tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

NEWSTICKER