SHARE NOW

Ini Fakta di Balik Mundurnya 1.400 Karyawan Bank KB Bukopin

JAKARTA | Tvnyaburuh.com –
PT Bank KB Bukopin Tbk mengatakan, 1.400 karyawannya mengundurkan diri per Desember 2021. Mereka mundur dengan sukarela, mengikuti program yang ditawarkan perusahaan.
Sekretaris Perusahaan Bank KB Bukopin Tias Hardi menjelaskan, perusahaan kini tengah fokus bertransformasi, yang salah satunya merupakan transformasi teknologi menuju New Generation Banking System (NGBS).

“Program ini ditawarkan kepada semua karyawan, dan sifatnya sukarela atau voluntary. Tidak ada paksaan, tidak ada penunjukan,” kata Tias dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin (24/1/2022).
Setelah resmi diakuisisi oleh Kookmin Bank pada tahun 2020, Bank KB Bukopin tengah fokus bertransformasi di berbagai aspek bisnis. Termasuk aspek sumber daya manusia (SDM) perusahaan.

Implementasinya, perusahaan menawarkan pengunduran diri secara sukarela kepada karyawannya. Setelah 1.400 karyawan mengikuti program tersebut, jumlah karyawan Bank KB Bukopin kini sekitar 4.800 karyawan.

WW2

“Kalau mau berkaca, bank-bank yang bertransformasi duluan, sudah melakukan ini (pengurangan karyawan sukarela),” ujar Tias.
Ia mengungkapkan, perusahaan memberi sejumlah manfaat atau benefit kepada karyawannya yang ingin mengundurkan diri secara sukarela.

Yaitu pembayaran uang pesangon yang lebih tinggi dibanding pesangon seharusnya. Asuransi individu dan keluarga karyawan yang mengikuti program tersebut juga masih akan ditanggung, hingga 6 bulan setelah pengunduran diri diajukan.

Bank KB Bukopin juga memberikan pelatihan kepada karyawan yang mengikuti program pengunduran diri secara sukarela, untuk mendukung keberlanjutan karier.

“Banyak karyawan, apalagi eranya sudah modern seperti ini, mungkin banyak karyawan yang sudah kepikiran jadi entrepreneur, businessman, pengusaha, atau mungkin ada yang punya prinsip ingin pindah industri, bukan di bank lagi,” ujarnya.
Perbankan adalah salah satu Industri yang fokus pada transformasi digital. Apalagi pandemi mengubah kebiasaan masyarakat, dari yang tadinya harus pergi ke bank untuk berbagai keperluan, menjadi cukup menggunakan ponsel atau laptop.

Sehingga perbankan kini banyak yang menutup kantor cabangnya dan mengurangi pegawai, karena mayoritas transaksi sudah dilakukan secara online.

Seperti bank BUMN BNI, yang menutup dan merelokasi 96 kantor cabangnya tahun lalu. Direktur Layanan dan Jaringan BNI Ronny Venir mengatakan, perubahan pola transaksi masyarakat terlihat dari makin sedikitnya nasabah yang mengunjungi kantor cabang.
“(Transaksi perbankan) sudah bisa dilakukan/di-serve (dilayani) dengan jaringan digital, kita tahun ini akan menutup sekitar 96 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia,” ucap Ronny beberapa waktu lalu.

Ronny mengungkapkan, hampir 80 persen dari volume transaksi nasabah BNI kini sudah dilakukan secara digital melalui infrastruktur yang disiapkan perseroan.
“Tinggal sedikit orang yang bertransaksi ke teller, tapi masih ada. Ini kenapa? Mungkin masih gagap teknologi, jadi mungkin masih ke cabang,” kata dia.

Efisiensi juga dilakukan oleh PT Bank BTPN Tbk yang telah mengurangi jumlah karyawan sebanyak 5.500 orang. Direktur Utama PT Bank BTPN Tbk. Ongki Wanadjati Dana mengatakan, hal itu sudah dilakukan sejak BTPN memulai transformasi layanannya ke digital pada 2016.

Awalnya, BTPN memiliki lebih dari 12.000 karyawan. Namun, dengan transformasi digital dan sosialisasi yang baik perseroan telah mampu menurunkan jumlah karyawan ke level 7.400.

“Dengan digitalisasi sekitar 5.500 karyawan kami memilih untuk mencari tempat lebih baik. Kami bersyukur semuanya mendapat perusahaan lebih cocok dan bahkan ada yang membuka usaha secara mandiri,” ungkap Ongki.
Selain efisiensi karyawan, transformasi digital juga membuat BTPN mampu memangkas banyak kantor cabang fisik yang berkinerja kurang optimal.
BTPN masuk ke bisnis bank digital pada 2016 dengan meluncurkan JENIUS, bank digital pertama di Indonesia.

#tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

NEWSTICKER